Babinsa TNI AD Ujung Tombak Teritorial, Berikut Tugas-tugasnya

Babinsa TNI AD Ujung Tombak Teritorial, Berikut Tugas-tugasnya

Hariansiber.com| MAKASSAR – Babinsa dilingkup TNI AD menjadi mengemuka dan mendadak terkenal, terutama publikasi di jejaring media baik itu media sosial maupun media online. Disamping fungsinya melaksanakan pembinaan teritorial (Binter) di wilayah pedesaan/kelurahan juga melaksanakan pembinaan yang bertugas pokok melatih warga memberikan penyuluhan di bidang hankam dan pengawasan fasilitas dan prasarana hankam di wilayah baik itu kelurahan/pedesaan.

Babinsa alias Bintara Pembina Desa TNI AD merupakan satuan teritorial TNI AD paling bawah, yang berhadapan paling langsung dengan masyarakat. Dia berada di bawah Komando Rayon Militer, bagian dari Komando Distrik Militer dan Komando Resor Militer, yang menginduk pada Komando Daerah Militer.

Seorang Bintara Pembina Desa memiliki wilayah operasi yang luasannya bervariasi, dari cuma satu desa hingga beberapa desa. Dia juga punya bisa asisten yang adalah tamtama TNI AD, sesuai dengan keperluan dan kondisi nyata setempat.

Di Kota-kota besar, seperti Makassar, para babinsa-babinsa ini justru perannya saat ini mendapat “perhatian” publik lantaran tugasnya lebih cepat tanggap saat terjadi insiden di masyarakat, karena perannya lebih langsung bersentuhan dengan masyarakat tadi, meski dilingkup TNI AD, selain Babinsa banyak sekali satuan-satuan induk TNI AD yang lebih besar berlokasi di Kota-kota besar di Indonesia itu.

Sebenarnya, apa tugas pokok para Babinsa TNI AD itu?

Menurut Peraturan Kepala Staf TNI AD Nomor 19/IV/2008 tertanggal 8 April 2008, seorang Bintara Pembina Desa berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan teritorial sesuai petunjuk atasannya, yaitu komandan Komando Rayon Militer (Danramil).

Secara pokok, tugas-tugas babinsa meliputi antara lain mengumpulkan dan memelihara data pada aspek geografi, demografi, hingga sosial dan potensi nasional di wilayah kerjanya. Babinsa merupakan ujung tombak TNI AD yang memiliki tugas melaksanakan pembinaan kewilayahan, pembinaan penduduk, kondisi sosial budaya dan keamanan.

Hal ini meliputi banyak sekali aspek, yaitu aspek SDM, SDA, sarana-prasarana dan infrastruktur di wilayah binaannya. Contoh aplikasinya pada saat bencana alam terjadi di satu wilayah seperti banjir dan tanah longsor, maka Babinsa ini menjadi ujung tombak informasi awal operasi militer selain perang berupa operasi kemanusiaan TNI AD atau gabungan.

Aplikasi lain di antaranya, dia yang tahu di mana saja sumber air bersih, lapangan yang bisa dijadikan penampungan pengungsi, warga yang memiliki radio amatir yang akan sangat bermanfaat dalam berkomunikasi, dan lain sebagainya, sampai jumlah cadangan pangan tersedia dan bencana banjir serta bencana alam lainnya tak luput dari tugas pemantauan para babinsa. Meski begitu, di dalam pelaksanaan tugas sehari-hari Babinsa sering disibukkan dengan berbagai macam masalah yang menyangkut sosial (kemasyarakatan).

Selain itu juga memberikan informasi awal terkini tentang kondisi dan situasi wilayah bagi pasukan tempur yang bertugas di wilayahnya. Semuanya harus dia laporkan pada komandannya pada kesempatan pertama.

Para Babinsa TNI AD yang biasanya bintara senior meski ada juga dari tamtama senior dikarenakan kebutuhan organisasi yang direkrut dari satuan-satuan tempur maupun satuan banpur serta satuan lain di lingkup TNI AD yang telah menyelesaikan masa bakti di satuan-satuan asalnya itu, sebelum resmi bertugas harus di-“kursus”-kan dulu selama beberapa bulan mengacu pada buku ajar yang telah ditetapkan.

Hariansiber saat konfirmasi melalui whatsapp salah seorang sumber terpercaya di TNI AD menyatakan, “Para Babinsa itu sebelum terjun juga harus magang selama beberapa waktu di Komando Rayon Militer (Koramil) untuk mengaktualisasikan semua pelajaran teritorialnya. Di.jajaran Kodim biasanya punya Koramil model tempat para Babinsa itu ditempa untuk magang. Intinya, bagaimana mengubah mereka dari personel satuan tempur menjadi personel satuan teritorial yang siap pakai di masyarakat”

Jadi, kata sumber itu, saat ini karena kebutuhan organisasi tidak mungkin seorang tamtama ataupun bintara senior yang baru dialihtugaskan ke komando teritorial terbawah itu langsung diberikan tugas lapangan nyata tanpa masa pendidikan dan pembinaan awal terlebih dahulu.

“Semua itu ada standar operasional prosesur dan diberlakukan resmi oleh pimpinan kami,” jelas sumber itu.

HS/(Imansyah Rukka)

Editor/HS/Arf/Red/Hariansiber

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )