Mantan Pengulu Blangkuncir Akui Nikmati Aliran Dana Desa

Mantan Pengulu Blangkuncir Akui Nikmati Aliran Dana Desa

HARIANSIBER | BANDA ACEH – Mantan Pengulu Kampung Blangkuncir Kecamatan Terangun Kabupaten Gayo Lues, berinisial LM, yang kini menjadi terdakwa dugaan kasus korupsi, mengakui menikmati aliran dana desa.

Hal itu diketahui pada sidang lanjutan kasus dugaan korupsi Dana Desa Blangkuncir, yang di gelar di ruang Tipikor Banda Aceh, Senin (16/3/2020).

Kemudian pada sidang tersebut, pihak Kejaksaan Negeri Gayo Lues, kembali menghadirkan saksi ahli dari Akademisi Unsyiah, sebagai ahli tehnik kontruksi jalan.

Alhasil, berdasarkan keterangan saksi ahli dalam sidang tersebut, diketahui dari beberapa item pekerjaan seperti, pembukaan jalan, pembangunan beronjong, pemasangan gorong-gorong, galian dan penghamparan sertu, terdakwa terbukti melakukan Mark UP. Kemudian, mengurangi volume pekerjaan.

“Dari item pekerjaan tersebut, jelas sudah menimbulkan kerugian Negara,” sampai saksi ahli setelah dicecar beberapa pertanyaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Gayo Lues, Rajeskhana, SH, MH yang didampingi JPU Yunasrul, SH.

Usai mendengarkan keterangan saksi ahli, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap terdakwa berinisial LM. Bahkan dalam pemeriksaan itu, mantan Pengulu Kampung Blangkuncir itu menjelaskan, setelah dirinya dilantik menjadi Pengulu pada tahun 2016 lalu, pekerjaan dimulai dengan pengangkatan perangkat desa dan merencanakan pembangunan pembukaan jalan, memasang beronjong dan gorong-gorong, pengadaan bebek serta beberapa kegiatan lainnya.

Advertisement

Terdakwa juga mengakui, bahwa SPJ kegiatan bukan Kaur Desa yang membuatnya, melainkan Pendamping Desa, “semua SPJ pekerjaan tahun 2016 bukan para Kaur Desa yang membuatnya, melainkan Pendamping Desa,” papar terdakwa saat dicecar pertanyaan oleh JPU terkait hal tersebut.

Kemudian, Majelis Hakim juga mencecar terdakwa dengan pertanyaan terkait pengadaan bebek dengan pagu Rp 104 juta rupiah, sementara yang dibelanjakan hanya 60 juta, “sisa anggaran dari pengadaan bebek tersebut tidak ada sama saya, semuanya sama bendahara desa, begitu juga dengan pagu anggaran pembukaan pembangunan jalan senilai Rp 204 juta, tapi yang dibayarkan hanya sebesar Rp 130 juta rupiah, itu pun sisa uang sebanyak Rp 74 juta rupiah sama bendahara,” tuturnya, seraya mengakui dirinya ada menikmati aliran dana desa tersebut, tetapi dia berkilah tidak ingat berapa jumlah dana desa yang dinikmatinya itu.

Seusai sidang, JPU Rajeskana, SH , MH, pada media ini menuturkan, untuk sidang selanjutnya merupakan pembacaan tuntutan dari penuntut umum, katanya singkat.

Liputan : Dosaino

Red/Arf/Hariansiber

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )