Novita Yuslinda, Perempuan Inspiratif dan Sosok Pejuang Lingkungan Tanpa Pamrih

2 min read

Novita Yuslinda, Foto Lani Lubis

HARIANSIBER.COM|TANJUNGPINANG –Namanya sudah tidak asing lagi diseputaran Sungai jang. Novita Yuslinda, karib disapa kak Linda merupakan salah seorang pejuang Lingkungan yang tidak pernah lelah menjaga lingkungan.

Ia terus bergelut dengan dunia sampah sampai mendirikan Bank sampah Cermai pada1 Oktober 2013.

Didukung tidak didukung ia tidak menyerah terus berusaha mencoba berubah paradigma masyarakat tentang sampah. Bahkan dizaman kepemimpinan Suryatati perempuan kelahiran Surabaya 3 November 1971 ini sering mendapat penghargaan bidang lingkungan disertai dengan dana pembinaan.

Dukungan keluarganya sebagai pejuang Lingkungan dibuktikan dengan peran serta mereka mendukung Bank sampah Cermai untuk maju.

Ketiga putra putrinya yang masih menempuh pendidikan tingkat dasar dan SMK selalu siap menjadi garda terdepan sang bunda menjemput dan juga memilah sampah.

Sisulung, Jangga Pratama putra Marnod (18) dan Rangga Dwi Satria Marnod menjadi tangan kanan sang bunda untuk urusan sampah. 2 remaja yang duduk di bangku SMK 1 Tanjungpinang ini tidak malu membantu sang ibu menjemput keranjang sampah yang dititip di mesjid-mesjid ataupun di Musholla.

Kemudian sampah-sampah tersebut dipilah sesuai jenisnya. Bukan hanya itu si bungsu, Jelita Wardira Putri Marlin pun turut serta membantu ibunya mengurus sampah.

Begitupun sang suami Mardiono yang bertindak membawa sampah dengan kaisar. Satu keluarga ini memang patut diacungkan jempol atas kerjasama yang kompak akan kepedulian akan lingkungan.

Atas berbagai hasil penghargaan tersebut, Linda diusulkan oleh Dinas lingkungan hidup (DLH) kota Tanjungpinang sebagai salah seorang perempuan inspiratif.

Perjuangannya terhadap lingkungan memang pantas diberikan penghargaan. Namun bagi Linda penghargaan tidaklah berarti tanpa adanya pembinaan dari pihak-pihak terkait. Terlebih menyangkut urusan sampah. Mengubah mind set masyarakat akan sampah merupakan tantangan yang tidak bisa dihadapi secara sepihak tetapi memerlukan kerjasama.

Namun diakuinya terkait sampah, seluruh wilayah dinusantara mengalami kesulitan yang sama. Hanya berbeda tingkat kesulitan dan penyelesaiannya.

Bank sampah Cermai yang dibangunnya sudah memiliki nasabah sebanyak 200 nasabah. Serta memiliki 3 program andalan. Pertama menabung sampah reguler yang bisa diambil sekali sebulan dengan jumlah tabungan minimal Rp.100 ribu. Kemudian tabungan sembako. Penabung bisa mendapat sembako subsidi lewat menabung sampah dan yang ketiga program menabung sedekah sampah.

Dari tiga program unggulan itu peminatnya lebih kurang sama. Masing-masing punya keunggulan tersendiri.

Baginya ia tetap berbuat untuk lingkungan karena tidak semua orang mau berbuat apa lagi tanpa pamrih.

(Lani Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.