Pembangunan Hotel Santika Kota Blitar Disoal Warga Sumber Airnya, Ini Jawaban dari Pengembang

Pembangunan Hotel Santika Kota Blitar Disoal Warga Sumber Airnya, Ini Jawaban dari Pengembang

HARIANSIBER.COM|BLITAR – Pembangunan Hotel Santika di Lingkungan Sendang, Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar sempat disoal warga terkait penggunaan sumber airnya. Ditakutkan hotel menggunakan sumur air dalam atau sumur bor yang bisa membuat sumber air dan sumur warga sekitar hotel menjadi kering.

Karang Taruna RW 2 Lingkungan Sendang pun mengundang pihak hotel di balai lingkungan setempat untuk memberikan sosialisasi ke warga pada Sabtu (14/8/2021). Membuat warga merasa sedikit lega setelah mendapat penjelasan dari pihak hotel.

Di sosialisasi itupun warga mengajukan pendapatnya diantaranya mengajak pihak hotel membuat kepastian hitam di atas putih tidak ada pengeboran sumur dalam. Hingga tentang kontribusi pihak hotel bagi warga sekitar bila sudah beroperasi nanti.

Pihak hotel pun yang saat itu mendatangkan tim teknis pembangunan menjelaskan bahwa nantinya hotel menggunakan air PDAM. Dijelaskan secara teknis nantinya air dari PDAM ditampung dulu di tempat cukup besar semacam tandon, lalu disalurkan ke kamar-kamar hotel.

“Setelah pertemuan dijelaskan tidak akan pengeboran dalam. Hotel menggunakan sumber PDAM dan sumur yang sudah ada di dalam lingkungan hotel. Jadi keresahan masyarakat sumur warga tidak akan terganggu,” kata Lawyer Pengembang Hotel Santika PT Bumi Arta Mas, Suyanto yang mengawal sosialisasi itu.

Terkait permintaan warga membuat perjanjian hitam diatas putih, Suyanto memastikan pengembang hotel menyanggupinya. Pihaknya telah berkomitmen menggunakan air PDAM sebagai sumber air utamanya.

Advertisement

“Pihak sudah komitmen tidak melakukan pengeboran sumur dalam, melainkan menggunakan sumur yang sudah ada dan yang utama itu dari PDAM. Ini memberikan keuntungan bagi daerah karena PDAM menjadi laku produknya kita gunakan dalam jumlah besar, sehingga memberikan income pada PAD,” paparnya.

Sementara, Ketua LSM Komite Rakyat Pemberantas Korupsi (KRPK) Mohammad Trijanto yang mewakili warga sekitar menyayangkan pihak hotel yang melakukan sosialisasi saat itu. Ia menganggap aksi itu terlambat, yang seharusnya dilakukan di awal-awal sebelum hotel yang kini telah berdiri 7 lantai itu.

“Seharusnya sosialisasi seperti ini sudah sejak dulu dilakukan, sebelum IMB dan AMDAL muncul. Nah ini setelah ribut baru diadakan. Kita harapkan PT juga transparan membuka AMDAL nya ke publik. Adapun kesepakatan terkait digunakannya PDAM untuk keperluan hotel juga dituangkan dalam lembar/kertas yang disertakan dalam pengadilan nantinya,” kata Trijanto.

Terkait tuntutan warga ke Pengadilan Negeri Blitar terhadap penolakan pendirian hotel, Trijanto memastikan tetap berjalan. Dimana saat ini masih dalam tahap mediasi dengan Pengadilan Negeri Blitar.

“Tetap berjalan 1 Minggu lagi ada mediasi kalau tidak ketemu kita langsung ke pokok perkara. Rencana kita juga akan ke PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara),” pungkasnya.

(Meidian Dona Doni)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus (0 )