Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan Dinilai Sebagai Kebijakan Menyakitkan

Penutupan Tempat Wisata dan Hiburan Dinilai Sebagai Kebijakan Menyakitkan

Kota Tegal, Hariansiber – Rencana penutupan tempat hiburan, tempat wisata dan tempat keramaian lainnya oleh Pemkot Tegal Dinilai sebagai kebijakan yang menyakitkan.

Hal itu ditegaskan oleh Pemerhati Pembangunan dan Kebijakan Publik Kota Tegal, Lutfi AN, Selasa ( 29/9) siang, saat dimintai komentarnya terkait rencana penutupan sejumlah titik keramaian sebagai buntut kasus konser dangdut di lapangan Tegal Selatan belum lama ini.

” Semestinya dalam menyikapi kasus konser dangdut di lapangan Tegal Selatan itu, Pemkot Tegal lebih mengedepankan upaya represif dengan intens melakukan sosialisasi program protokoler kesehatan. Bukan malah melakukan penutupan, itu justru sama saja menyakiti rakyat karena perekonomian mereka akan terkapar lagi, khususnya yang mengais rejeki di sektor wisata dan hiburan,” kata Lutfi.

Lebih jauh Lutfi mengatakan, jika Pemkot Tegal serius melakukan penutupan, maka lembaga Wakil Rakyat harus bersikap membela kepentingan rakyat. Alasannya, sudah terlalu sering rakyat menderita oleh kebijakan yang dinilai kurang tepat.

” Bayangkan saja, selama 3 bulan di masa lockdown lokal dulu, rakyat dibuat kesulitan untuk memenuhi hajat hidupnya. Dan kini kabarnya akan ditutup lagi di sejumlah titik keramaian itu selama 1 bulan. Padahal ini bermula dari ulah pejabat, kok malah rakyat yang harus menderita,” ungkap Lutfi.

Lutfi menambahkan, pihaknya cukup apresiatif terhadap pernyataan Ketua Komisi 3 DPRD Kota Tegal, Edy Suripno SH MH di media, yang secara tegas membela kepentingan rakyat.

Advertisement

” Meskipun pernyataan itu tidak dapat digeneralisir sebagai pernyataan Lembaga DPRD karena yang menyatakan bukan dari unsur pimpinan DPRD namun setidaknya saya pribadi mengucapkan salut buat Ketua Komisi 3,” tegas Lutfi.

Secara terpisah, Ketua LSM Aliansi Masyarakat Untuk Kota Tegal ( AMUK) Komaraenudin saat dimintai pendapatnya mengatakan, bahwa seharusnya yang dilakukan Pemkot adalah konsistensi terhadap pelaksanaan kebijakan New Normal bukan penutupan sejumlah pusat keramaian.

” Penerapan pola new normal ini yang seharusnya lebih ditekankan, bukan pembunuhan sektor ekonomi. Karena dalam konsepsi new normal harapannya adalah kehidupan rakyat berjalan normal tapi dengan gaya baru yaitu mematuhi protokoler kesehatan karena ini di era pandemi Covid 19,” kata Komaraenudin yang lebih akrab disapa Udin Amuk.

Menurut Udin Amuk, sosilaisasi pola hidup new normal bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak hanya oleh Pemkot Tegal tapi oleh pihak lain dalam hal ini perusahaan swasta, lembaga DPRD atau pun perorangan.

” Kan itu bisa dilakukan oleh masing masing anggota DPRD melalui dapilnya masing masing dengan sosialisasi dalam bentuk imbauan melalui baliho atau banner yang intinya agar warga tetap menerapkan pola hidup yang berpedoman terhadap protokoler kesehatan, ini juga bisa dilakukan oleh semua perusahaan, perorangan atau komunitas komunitas,” tegas Udin Amuk.

Wartawan : Riyanto Jayeng

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )