Sang Jurnalis Bertabih – Tahun Terbit: 2022 -Tebal Buku: 340.halaman

4 min read

Hariansiber.com | Resensi – Wartawan merupakan profesi yang bertujuan untuk memberikan hiburan, pendidikan, kontrol sosial hingga corong informasi yang dibutuhkan masyarakat dalam kehidupan berdemokrasi berbangsa dan bernegara.

Namun, di samping tujuan tersebut, disertai beragam stigma yang mengikutinya. Tak dapat dihindari, beragam anggapan yang melekat pada profesi wartawan berupa masih adanya stigma negatif dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap lembaga pers hingga pandangan bahwa jurnalis hanya cenderung mencari kesalahan orang lain dengan hanya meliput kejadian-kejadian yang bernilai negatif.

Stigma tersebut melekat begitu saja tak diketahui akar atau awal kemunculannya dan tanpa mengetahui bagaimana kisah keseharian dalam kehidupan  profesi jurnalis/wartawan yang sesungguhnya.

Tak perlu berpikir panjang, dengan judul ‘Sang Jurnalis Bertasbih’ ini telah menginformasikan bahwa novel ini membawa kisah kehidupan dunia kewartawanan yang selalu melangkah dalam sebuah tuntunan jalan Tuhan. Dengan  340 halaman, penulis berhasil menelanjangi kehidupan orang-orang yang bekerja di balik terbitnya suatu pemberitaan.

Karakter tokoh utama, Sadewa yang merupakan seorang sarjana hukum memilih bekerja sebagai wartawan. Narasinya begitu kuat untuk membawa pembaca hanyut pada petualangannya dalam melakukan investigasi terhadap suatu kasus dugaan korupsi dana Covid-19  di suatu kementerian.

Fakta demi fakta, bukti demi bukti, ia kumpulkan dan rangkai untuk diungkap dalam laporan khusus media tempatnya bekerja pada instansi yang berlabel ‘Hariansiber’. Namun,  kian dalam ia menggali lubang informasi, semakin dalam pula ia berada dalam lubang hitam yang telah lama menganga lebar di negeri ini. Sentuhan orang-orang rahasia bekerja dan tak seorang pun yang tahu apakah dirinya seorang pahlawan, korban, ataukah pecundang yang nyata.

Tak sampai disitu, terkait Sadewa yang bekerja dalam tugas investigasi dalam menyelami kasus dugaan korupsi tadi hingga akhirnya ia harus menerima konsekwensi dari tugas itu dengan mendapatkan teror yakni upaya-upaya “,doxing” terhadap dirinya
Satu kisah pengalaman yang sangat menarik dan menyita waktu seorang Sadewa saat sekelompok orang tak dikenal melakukan aksi teror terhadap dirinya di kediamannya dengan merusak dan membobol pintu rumah milik Sadewa dan para pelaku teror mengambil barang-barang perangkat milik Sadewa seperti laptop, Id Card yang terkait dengan kerjanya yang tengah mengusut tuntas dugaan korupsi dana covid-19 di salah satu instansi.

Di lain sisi, Mariska yang merupakan sosok perempuan yang hatinya tertambat untuk Sadewa justru menjadi bagian dari kantor hukum pengacara rekanan perusahaan pemenang tender yang diduga bermasalah. Kantor hukum tak tinggal diam dengan liputan-liputan yang menyudutkan kliennya. Buku ini membuat kita bertanya-tanya, bisakah cinta yang disembunyikan keduanya bekerja secara rahasia, menyatukan mereka? Siapakah pahlawan, korban, atau pecundang di dalam semesta cinta?

Membawa tema inspiratif ‘Cinta, Konspirasi, Investigasi’, berhasil memikat pembaca dengan beragam konflik. Suasana investigasi ala jurnalis hukum yang kental dengan nuansa integritas dan menegangkan mendominasi dalam buku ini. Bahkan, keterkaitan Sadewa dan Mariska yang menimbulkan konflik cinta yang unik hingga konspirasi yang mengejutkan. Sehingga beberapa hal tersebut yang menggiring pembaca terus memburu keping demi keping cerita hingga akhir dari sebuah kisah ini.

Dengan latar belakang seorang jurnalis, penulis berhasil menyajikan alur investigasi seorang wartawan yang begitu hidup namun menuntun pembaca masuk di dalamnya. Selain menambah literasi pembaca membuat pembaca dapat merasakan atmosfer baru dengan bagaimana menjalani kehidupan profesi seorang wartawan yang sebenarnya.

Banyak bagian mengejutkan yang juga tak disangka-sangka di dalamnya. Tak hanya menceritakan kehidupan seorang wartawan, keterlibatan orang-orang rahasia “top secret” yang bekerja tanpa orang-orang sadari digambarkan sebagai kelompok intelijen yang ternyata mengatur suatu skenario dalam penyelesaian konflik dan mereka tersebar saat menyamar dalam posisi-posisi yang tak disangka-sangka. Hal tersebut menghasilkan akhir cerita yang mengejutkan dan terkesan misteri dan teka teki serta sulit untuk ditebak.

Tak hanya mengupas bagaimana cara kerja jurnalis investigasi atau menangkis beragam stigma yang melekat pada wartawan, namun juga menyinggung kritik terhadap kasus penyelewengan dan konspirasi yang masih marak terjadi di tanah air. Ditambah pula dengan pembuktian tentang bagaimana intelijen di negeri ini bekerja secara sangat halus dan tak terlihat.

Membawa kisah wartawan menjadi suatu tema yang segar dalam kesusastraan Indonesia. Siapapun yang ingin mengenal kehidupan wartawan, novel ini dapat menjadi jawabannya. Terutama seorang jurnalis pemula atau yang ingin melangkah dalam dunia kejurnalistikan.

Begitu menarik karena membawa kisah keberanian, sifat tahu diri, kecerdasan dan sekaligus kehati-hatian dalam mengungkap suatu kejahatan. Membaca buku ini membawa ilmu dan juga pengalaman baru pada setiap lembarnya.

“Menjadi wartawan adalah sebuah pengabdian dan panggilan hati dan jiwa. Tanpa banyak yang memahami ada nilai-nilai etika dan estetika dalam kehidupan wartawan yang sekaligus sebagai inti atau poros lehidupan alam semesta ini selain sebagai jembatan dalam setiap strata kehidupan. Kita menghubungkan penguasa – pengusaha dan rakyatnya dan sebaliknya pula kita menjadikan manusia menuju insan alkamil –  menghubungkan orang tahu dan menjadi tahu orang yang tidak paham menjadi paham.  Bisa dibayangkan jika inti dan poros kehidupan dan corong informasi itu rusak atau bahkan tidak ada. Itulah peran kita. Peran utama dalam membangun peradaban menuju manusia insan alkamil dengan terus menerus bertasbih bersama alam semesta raya,” jelas kutipan yang tertuang dalam buku karangan Imansyah Rukka.

(Jurnalis Imansyah Rukka).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.